Kehidupan menyisakan beberapa misteri yang mungkin takkan terungkap. Manusia merupakan sebuah misteri tersendiri dalam kehidupan. Bagaimana manusia dapat berkembang, bagaimana manusia berubah hanya dalam hitungan detik. Dulu saya selalu berpikir bahwa paham sosialis itu paham yang paling baik dengan dasar "sama rasa sama rata". Bagaimana semua manusia dapat hidup dengan hak dan kewajiban yang sama dimana hak dan kewajiban itu dijamin. Dimana hanya ada satu kelas sosial dalam kehidupan yaitu kelas sosial manusia itu sendiri. Pada waktu itu saya berpikir betapa indahnya kehidupan dengan semua orang berada pada kedudukan yang sama.
Seiring berjalannya waktu, pandangan saya pun berubah dimana idealisme sosialis saya mulai luntur dan saya tidak lagi meremehkan kekuatan manusia dan sistem yang diciptakannya. Saya juga mulai melihat perbedaan sebagai sesuatu yang indah. Yang menjadi basis perubahan pemikiran saya adalah bahwa walau semua orang diberikan jatah yang sama namun penerimaan manusia akan berbeda-beda. Ada orang yang merasa cukup dan ada orang yang masih merasa kurang. Ada orang yang mampu menerima wewenang lebih ada yang tidak. Ada orang yang suka memerintah dan ada orang yang lebih suka diperintah. Ada orang yang cenderung bebas ada orang yang cenderung sistematis. Bayangkan jika orang yang tidak mampu menerima lebih diberikan yang berlebih maka akan terjadi sesuatu yang berlebihan dan lebih dari normal. Dan bayangkan jika seseorang yang mampu menerima lebih namun tidak diberikan lebih maka akan terasa kurang.
Namun senyatanya dunia nyata tak berjalan seperti dunia di kepala saya. Ada orang yang memiliki kapasitas untuk menerima lebih namun tidak memiliki kesempatan untuk medapatkan lebih dan ada pula orang yang tidak mampu memiliki lebih namun diberikan kesempatan untuk menerima lebih. Apakah saya hanyalah orang yang berpikir berlebihan atau mungkin saya hanyalah orang yang kurang berpikir?
Selasa, 17 Juli 2012
Makna Dua Buah Kata
Sebuah puisi yang disusun berdasarkan lirik lagu dari Captain Jack Band. Karya yang ditulis 3 tahun yang lalu.
Aku dilahirkan dalam kesepian
Di tengah keramaian dunia
Aku dibesarkan dengan
Segala aturan yang mengekangku
Ku tak bisa bedakan
Ini rumah ataukah ini jeruji besi
Aku bagaikan hidup dalam sangkar burung
Semuanya pergi
Saat kubutuh bersandar
Semua berteriak
Saat kubutuh kedamaian
Entah sampai kapan
Ini kan berlanjut di kehidupanku
Entah sampai kapan
Meraka “bermain” hingga sadar waktu tlah habis
Ibu dan ayah selamat malam
Selamat bertengkar hingga kau puas
Jangan hiraukan aku, kututup telingaku
Apa salah dan dosaku?
Mengapa tak ada yang peduli padaku?
Adakah di sana seorang pahlawan
Yang mampu menyelamatkan hidupku?
Mampukah ia membuat hatiku tersenyum
Karena slama ini senyum di bibirku hanyalah senyum palsu
Adakah di sana sesorang yang mau menjadi sahabatku?
Yang akan menemaniku menjalani hidup ini
Tapi Nampaknya itu hanyalah harapan kosong
Karena mentari pun enggan menemaniku
Ku ingin perubahan, ingin ku berubah
Namun semua disekelilngku tetap sama
Ku coba berubah sedikit mengubah
Namun mereka menghujatku karna ku tak sama
Mereka slalu saja paksakan semua kehendak mereka
Aku punya hati
Kudapat berpikir tantang diriku sendiri
Kau memang ayahku
Kau memang ibuku
Tapi maaf, ini adalah hidupku
Aku adalah aku
Kulakukan apa yang kulakukan
Meskipun ku tak tahu siapa diriku
Kan kupilih jalan hidupku
Sesuai apa yang kumau
Kan kudaki gunung tertinggi
Asalkan kudapat menemukan makna sebuah kata
Yang selama ini kusebut
“Kebahagiaan”
Kan kuselami samudra terdalam
Asalkan kudapat menemukan seseorang
Yang mau menganggapku sebagai
“Sahabat”
Aku dilahirkan dalam kesepian
Di tengah keramaian dunia
Aku dibesarkan dengan
Segala aturan yang mengekangku
Ku tak bisa bedakan
Ini rumah ataukah ini jeruji besi
Aku bagaikan hidup dalam sangkar burung
Semuanya pergi
Saat kubutuh bersandar
Semua berteriak
Saat kubutuh kedamaian
Entah sampai kapan
Ini kan berlanjut di kehidupanku
Entah sampai kapan
Meraka “bermain” hingga sadar waktu tlah habis
Ibu dan ayah selamat malam
Selamat bertengkar hingga kau puas
Jangan hiraukan aku, kututup telingaku
Apa salah dan dosaku?
Mengapa tak ada yang peduli padaku?
Adakah di sana seorang pahlawan
Yang mampu menyelamatkan hidupku?
Mampukah ia membuat hatiku tersenyum
Karena slama ini senyum di bibirku hanyalah senyum palsu
Adakah di sana sesorang yang mau menjadi sahabatku?
Yang akan menemaniku menjalani hidup ini
Tapi Nampaknya itu hanyalah harapan kosong
Karena mentari pun enggan menemaniku
Ku ingin perubahan, ingin ku berubah
Namun semua disekelilngku tetap sama
Ku coba berubah sedikit mengubah
Namun mereka menghujatku karna ku tak sama
Mereka slalu saja paksakan semua kehendak mereka
Aku punya hati
Kudapat berpikir tantang diriku sendiri
Kau memang ayahku
Kau memang ibuku
Tapi maaf, ini adalah hidupku
Aku adalah aku
Kulakukan apa yang kulakukan
Meskipun ku tak tahu siapa diriku
Kan kupilih jalan hidupku
Sesuai apa yang kumau
Kan kudaki gunung tertinggi
Asalkan kudapat menemukan makna sebuah kata
Yang selama ini kusebut
“Kebahagiaan”
Kan kuselami samudra terdalam
Asalkan kudapat menemukan seseorang
Yang mau menganggapku sebagai
“Sahabat”
Harmoni
Setiap berlalunya waktu, terjadi tumpang tindih fenomena kehidupan layaknya permainan tetris. Pergolakan antara penalaran otak, kegundahan hati, keroncongnya perut dan gejolak bawah perut pun tak terhindarkan seolah-olah mereka berebut kursi kepemimpinan untuk menyetir kehidupan. Curigation dan krisis kepercayaan menyelimuti segala kontradiksi seakan tidak ada solusi yang pasti seperti bolah bundet tak berujung. Saling sikut, saling makan, caci maki, menghewankan yang manusia (animalifikasi) adu domba antar sesama yang besebelahan rumput. Mempermasalahkan yang tidak jadi masalah dan mengalihkan masalah yang sudah cemetho. "Prihatin" itukah yang dibutuhkan? Menuntut sesuatu berubah dengan cepat dengan sendirinya tanpa menghargai proses seperti mengharapkan degan tibo tanpa dipeneki. Ada yang menuntut keseragaman, kesetaraan, keterawangan(transparansi) tanpa pernah berfikir akan perbedaan. Mereka terkadang berpikir tidak akan mungkin menyatukan perbedaan dan kontradiksi atau bahkan tidak pernah berpikir sama sekali. Semua pihak menuntut iti/inu, berpangku tangan menunggu otoritas bergerak tanpa mau membasahi senyum dengan keringat. Mereka lupa bahwa dunia ini indah karena perbedaan bung. bayangkan jika semuanya sama, kita hanya akan berinteraksi dengan cermin seperti munyuk ngilo(mungil). Ketika semua mau membuka diri lepas dari pikiran cupet sesaat dan melihat sesuatu dari sisi lain sebuah koin. Koin tidak akan berganti sisi tanpa diputar. Ketika pilar tetap berdiri kokoh walau diterpa puting beliung modern. Ketika semua tangan bergandengan tanpa bersuudzon ria melangkah ke depan berdampingan menuju pencerahan yang berwarna-warni tidak lagi disetir oleh satu warna minoritas dimana ada kebebasan memilih. Indahnya dunia ini dalam harmoni.
Waktu
Waktu adalah sebuah entitas yang paling jauh dari manusia, sifatnya relatif dan tak terjangkau.
Setiap detik waktu berlalu dan tanpa terasa waktu telah melangkah jauh meninggalkan suatu titik.
Terkadang manusia menyesali waktu yang telah terbuang, menyalahkan waktu dan berusaha memutar waktu.
Terkadang manusia berharap waktu dapat berlalu dengan begitu cepatnya ataupun sebaliknya waktu dapat terheti.
Hargailah jalannya proses kehidupan karena tanpa sebuah proses tak kan sebuah pembelajaran.
Namun percayalah ketika kau mengotak-atik waktu kau akan melewatkan esensi dan value sebuahi peristiwa.
Tidaklah ada makna dan hikmah yang dapat terinternalisasi.
Dan ketika manusia dapat mempermainkan waktu, dunia takkan lagi seindah ini.
Yang tersisa hanyalah kehampaan.
Langganan:
Komentar (Atom)