Selasa, 17 Juli 2012

Harmoni

Setiap berlalunya waktu, terjadi tumpang tindih fenomena kehidupan layaknya permainan tetris. Pergolakan antara penalaran otak, kegundahan hati, keroncongnya perut dan gejolak bawah perut pun tak terhindarkan seolah-olah mereka berebut kursi kepemimpinan untuk menyetir kehidupan. Curigation dan krisis kepercayaan menyelimuti segala kontradiksi seakan tidak ada solusi yang pasti seperti bolah bundet tak berujung. Saling sikut, saling makan, caci maki, menghewankan yang manusia (animalifikasi) adu domba antar sesama yang besebelahan rumput. Mempermasalahkan yang tidak jadi masalah dan mengalihkan masalah yang sudah cemetho. "Prihatin" itukah yang dibutuhkan? Menuntut sesuatu berubah dengan cepat dengan sendirinya tanpa menghargai proses seperti mengharapkan degan tibo tanpa dipeneki. Ada yang menuntut keseragaman, kesetaraan, keterawangan(transparansi) tanpa pernah berfikir akan perbedaan. Mereka terkadang berpikir tidak akan mungkin menyatukan perbedaan dan kontradiksi atau bahkan tidak pernah berpikir sama sekali. Semua pihak menuntut iti/inu, berpangku tangan menunggu otoritas bergerak tanpa mau membasahi senyum dengan keringat. Mereka lupa bahwa dunia ini indah karena perbedaan bung. bayangkan jika semuanya sama, kita hanya akan berinteraksi dengan cermin seperti munyuk ngilo(mungil). Ketika semua mau membuka diri lepas dari pikiran cupet sesaat dan melihat sesuatu dari sisi lain sebuah koin. Koin tidak akan berganti sisi tanpa diputar. Ketika pilar tetap berdiri kokoh walau diterpa puting beliung modern. Ketika semua tangan bergandengan tanpa bersuudzon ria melangkah ke depan berdampingan menuju pencerahan yang berwarna-warni tidak lagi disetir oleh satu warna minoritas dimana ada kebebasan memilih. Indahnya dunia ini dalam harmoni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar