Selasa, 17 Juli 2012

Sama Rata Tidak Sama Dengan Sama Rasa

Kehidupan menyisakan beberapa misteri yang mungkin takkan terungkap. Manusia merupakan sebuah misteri tersendiri dalam kehidupan. Bagaimana manusia dapat berkembang, bagaimana manusia berubah hanya dalam hitungan detik. Dulu saya selalu berpikir bahwa paham sosialis itu paham yang paling baik dengan dasar "sama rasa sama rata". Bagaimana semua manusia dapat hidup dengan hak dan kewajiban yang sama dimana hak dan kewajiban itu dijamin. Dimana hanya ada satu kelas sosial dalam kehidupan yaitu kelas sosial manusia itu sendiri. Pada waktu itu saya berpikir betapa indahnya kehidupan dengan semua orang berada pada kedudukan yang sama.
Seiring berjalannya waktu, pandangan saya pun berubah dimana idealisme sosialis saya mulai luntur dan saya tidak lagi meremehkan kekuatan manusia dan sistem yang diciptakannya. Saya juga mulai melihat perbedaan sebagai sesuatu yang indah. Yang menjadi basis perubahan pemikiran saya adalah bahwa walau semua orang diberikan jatah yang sama namun penerimaan manusia akan berbeda-beda. Ada orang yang merasa cukup dan ada orang yang masih merasa kurang. Ada orang yang mampu menerima wewenang lebih ada yang tidak. Ada orang yang suka memerintah dan ada orang yang lebih suka diperintah. Ada orang yang cenderung bebas ada orang yang cenderung sistematis. Bayangkan jika orang yang tidak mampu menerima lebih diberikan yang berlebih maka akan terjadi sesuatu yang berlebihan dan lebih dari normal. Dan bayangkan jika seseorang yang mampu menerima lebih namun tidak diberikan lebih maka akan terasa kurang.
Namun senyatanya dunia nyata tak berjalan seperti dunia di kepala saya. Ada orang yang memiliki kapasitas untuk menerima lebih namun tidak memiliki kesempatan untuk medapatkan lebih dan ada pula orang yang tidak mampu memiliki lebih namun diberikan kesempatan untuk menerima lebih. Apakah saya hanyalah orang yang berpikir berlebihan atau mungkin saya hanyalah orang yang kurang berpikir?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar